
Raden Kalung Mahmud Kisah Mistis Penguasa Gaib Sungai Citarum
Pendahuluan: Mengenal Sang Penguasa Citarum
Pertama-tama, mari kita kenali Sungai Citarum. Sungai besar ini menyimpan banyak misteri di sepanjang alirannya. Khususnya, di Kampung Mahmud, Desa Mekarahayu,

Kabupaten Bandung, masyarakat setempat mempercayai sebuah legenda turun-temurun. Menurut kepercayaan mereka, seorang penguasa gaib bernama Raden Kalung Mahmud menghuni sungai tersebut. Dengan kata lain, ia berperan sebagai penjaga sekaligus penguasa Sungai Citarum.
Lantas, siapakah sebenarnya Raden Kalung? Selanjutnya, mengapa kisahnya begitu lekat dengan warga Kampung Mahmud? Mari kita telusuri kisah mistis yang sarat pesan moral ini.
Asal-usul Raden Kalung: Antara Dua Versi
Sebagaimana legenda rakyat pada umumnya, kisah Raden Kalung hadir dalam lebih dari satu versi. Kedua versi tersebut sama-sama menarik dan memberikan gambaran kaya akan nilai-nilai lokal.
Versi Pertama: Murid Bangsa Jin
Berdasarkan riset Eko Risanto (2009), Eyang Dalem Abdul Manaf memiliki seorang murid dari bangsa jin. Di sini, masyarakat setempat menghormati Eyang Dalem Abdul Manaf sebagai Eyang Mahmud atau Eyang Haji. Sang murid gaib itu bernama Raden Kalung Bimanagara.
Untuk diketahui, Eyang Dalem Abdul Manaf sendiri merupakan keturunan Sultan Mataram. Kemudian, ia pergi ke Mekkah pada abad ke-15. Sepulangnya dari tanah suci, ia membawa segenggam tanah. Setelah itu, ia meletakkan tanah tersebut di wilayah rawa pinggir Sungai Citarum. Hasilnya, tanah itupun berkembang menjadi Kampung Mahmud. Yang menarik, warga meyakini wilayah ini “keramat” karena tak pernah tersentuh banjir, meski Citarum sering meluap di sekelilingnya.
Selanjutnya, Raden Kalung Bimanagara menerima tugas khusus dari gurunya. Tugasnya yaitu melindungi keturunan Eyang Haji yang tercebur ke Sungai Citarum. Menurut warga, sosoknya sangat menawan, berwajah tampan namun bertubuh ular keemasan. Mereka juga meyakini bahwa tidak ada orang yang berani melihat penampakannya. Bahkan, tak sembarang orang bisa mengundang kehadirannya.
Versi Kedua: Putra Bupati yang Dibuang
Di sisi lain, versi berbeda datang dari Tata (2002) dalam buletin Warga Peduli Lingkungan. Menurut versi ini, Raden Kalung merupakan jelmaan putra Kangjeung Dalem Gajah, seorang bupati dari masa lampau.
Saat dilahirkan, bayi tersebut berwarna merah, tetapi bentuknya merengkol seperti ular. Karena merasa malu dan takut akan aib, sang ayah membuang bayi malang itu ke sungai. Namun, sebelum melepasnya ke alam, sang ayah sempat memberinya nama Raden Kalung.
Sementara itu, versi lain yang berkembang di masyarakat menyebutkan bahwa Raden Kalung berubah wujud menjadi siluman ular setelah menikahi seorang perempuan dari bangsa jin. Menariknya, penampakan sosoknya biasanya berupa ular besar hitam legam dengan lingkaran putih di leher. Dengan demikian, lingkaran putih inilah yang menjadi asal-usul namanya.
Wujud dan Penampakan
Selanjutnya, mari kita bahas wujud Raden Kalung. Masyarakat sekitar meyakini Raden Kalung sesekali menampakkan diri. Biasanya, ia muncul di hadapan orang-orang yang sedang menangkap ikan di Citarum. Wujudnya berupa ular besar dan panjang. Bahkan, beberapa orang menyebutnya berwarna keemasan, sementara yang lain melihatnya hitam dengan lingkaran putih.
Yang unik, meski berwujud ular, Raden Kalung memiliki kesaktian dan kecerdasan layaknya manusia. Dengan kemampuan ini, ia bisa membedakan mana orang yang berniat baik dan mana yang berniat jahat terhadap sungai maupun keturunan Eyang Mahmud.
Kekuasaan dan Tabu: Pesan Moral di Balik Legenda
Perlu ditegaskan, kisah Raden Kalung bukan sekadar cerita horor pengantar tidur. Justru di balik sosok mistisnya, legenda ini menyimpan pesan ekologis yang sangat relevan hingga saat ini.
Pertama, masyarakat setempat percaya bahwa Raden Kalung akan murka bila ada orang yang membuang sampah atau kotoran ke Sungai Citarum. Akibatnya, para pelanggar akan mendapat sanksi berupa kesurupan, sakit yang tak kunjung sembuh, atau siksaan aneh. Dalam istilah lokal, mereka menyebutnya “kualat”.
Kedua, dalam konteks modern, kepercayaan ini menjadi mekanisme kontrol sosial alami untuk menjaga kebersihan sungai. Sebagai catatan, pada masa lalu, kesadaran lingkungan belum setinggi sekarang. Oleh karena itu, cerita tentang “hukuman Raden Kalung” menjadi cara efektif untuk membuat masyarakat berpikir dua kali sebelum mencemari sungai.
“Semoga Raden Kalung segera muncul kembali menghukum mereka-mereka yang merusak lingkungan Citarum.” — Tata, 2002
Kampung Mahmud: Rumah bagi Sang Penguasa Sungai
Tidak hanya soal Raden Kalung, Kampung Mahmud sendiri juga memiliki keunikan tersendiri. Secara administratif, kampung ini masuk RW 04 Desa Mekarahayu. Yang unik, kampung ini berada dalam meander (kelokan) Sungai Citarum. Akibatnya, posisinya terisolasi dan dikelilingi air.
Dahulu kala, rumah-rumah asli warga berupa bilik atau dinding anyaman bambu. Selain itu, rumah-rumah itu juga berbentuk panggung. Mengapa demikian? Para tetua memilih bentuk ini bukan hanya karena nilai kesederhanaan, tetapi juga karena kondisi tanah yang labil bekas rawa. Kini, seiring perkembangan zaman, jembatan besar telah hadir dan rumah-rumah beton mulai bermunculan. Namun, kepercayaan terhadap leluhur dan penguasa gaib sungai tetap lestari.
Terakhir, warga Kampung Mahmud meyakini mereka sebagai keturunan Eyang Dalem Abdul Manaf. Hingga kini, Raden Kalung dipercaya masih menjalankan tugasnya. Dengan setia, ia menjaga keturunan Eyang Haji di sekitar aliran Citarum.
![]()





